Abstract School

Indonesian Roleplay Forum based on Alice Academy story
 
HomePortalFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Guest
Guest



PostSubject: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 7:22 pm

((OOC: AKIHIKO AND ISAKI ONLY))

===================================

Akihiko memilah-milah pakaian yang akan dimasukkannya ke mesin cuci, sembari melengos. Entah kenapa nampak kesialan menimpanya bertubi-tubi semenjak ia memutuskan untuk pergi ke Alice Academy. Yang jelas, kehilangan koper di airport adalah puncak kesialannya hari ini. Akibatnya tadi siang ia harus memburu baju darurat di Central Town.

Tak lupa ia membeli pakaian dalam.

Untuk urusan pakaian dalam, Akihiko punya satu kode etik wajib, yaitu selalu memakai yang bersih dan yang sudah dicuci. Walau baru sekali pun. Siapa tahu di pabrik pakaian dalam banyak bakteri-bakteri menempel?

Akihiko sensitif dengan bakteri pakaian dalam.

Jadi di sinilah dia, di malam hari, di ruang laundri siswa, menyortir pakaian dalamnya yang baru dibeli, satu demi satu.

Dia tersenyum simpul melihat celana dalam motif loreng macan yang mengkilat di tangannya, sebelum melemparnya masuk ke dalam mesin cuci. Akihiko senang motif macan.

"Rawr!" serunya tidak jelas sambil menutup mesin dan mulai memproses cuciannya.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 7:47 pm

Isaki ngedumel. Sepanjang Hidupnya belum pernah ia cuci pakaian sendiri. Untung saja sebagai one star mereka masih diberi fasilitas mesin cuci. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus mencuci dengan papan cuci, sabun batang, dan ...baskom?

Menenteng keranjang besar penuh dengan pakaian kotor, yang sudah hampir 1 minggu tak ia gubris kalau ia tidak melihat bayangan hitam tampak merayap di sela-sela tumpukan pakaiannya itu (tumpukan pakaian itu nyaris ia bakar ditempat kalau saja tidak ingat diri). Mendekati salah satu mesin cuci yang tidak digunakan, dan dengan sembarangan memasukkan semua pakaiannya ke dalam.

Dengan sedikit usaha keras (mendorong dan menginjak) semua tumpukan baju itu ke dalam mesin malang itu, dengan satu tarikan napas, ia menutup pintu mesin. Puas dengan usahanya.

Mesin cuci mulai bekerja, dan ia memperhatikan dengan tertarik mesin yang dalamnya berputar-putar itu, berpikir bagaimana rasanya jika ia yang berada di dalam, tersenyum samar seolah merenacanakan sesuatu ilegal pada mesin itu. Terlalu asik memperhatikan mesin cuci, ia tidak menyadari kehadiran orang lain yang sedang mencuci disana juga.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 8:19 pm

Akihiko memutuskan untuk membaca majalah remaja yang sudah kucel (nampaknya sudah sepuluh tahun berada di dalam ruang laundry itu) selama menunggu pakaiannya berguling-guling dalam mesin cuci. Ketika dia sampai pada kolom yang mana menceritakan pengalaman pahit seorang remaja yang telah ditolak 10 gadis yang ditaksirnya, telinganya menangkap suara-suara heboh di depan.

Ia mengangkat wajah, dan melihat sesosok murid pria sedang sibuk memasukkan setumpuk baju ke dalam mesin cuci, yang kalau bisa dibilang sih, enggak gede-gede amat. Akihiko curiga jangan-jangan anak itu tidak bisa mengukur proporsi volume dengan baik dan benar. Tapi dia diam saja, dan terus memperhatikan perjuangan orang itu. Peluh tampak mengalir dari balik rambut hitamnya, menuju ke balik tengkuk.

Akihiko merasa pernah melihat potongan rambut itu. Kapan? Dimana?

Selesai dengan usahanya, orang itu menutup mesin dan nampak sangat serius memperhatikan penutup mesin cuci, seakan sedang serius merenungi sesuatu.

Walau telah menjulurkan lehernya, Akihiko tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas, ditambah lagi anak itu memakai kacamata, dan di bawah temaram lampu laundry yang sebentar lagi nampak mau korslet, kacamata itu berkilat-kilat. Tak lupa ia tersenyum sendiri.

Akihiko menggelengkan kepala. Banyak orang aneh di akademi ini. Tiba-tiba mengingatkannya pada salah satu kawan lamanya di masa SD dulu, yang sifat anehnya kurang lebih tidak jauh berbeda.

Ah...
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 8:34 pm

PET PYAAR PETT PYAARR

Lampu di laundry itu ternyata sudah minta tidur rupanya. Yah, hari memang sudah malam dan kebanyakan penghuni akademi sudah kembali masuk ke dalam liang peristirahatan masing-masing, tapi lampu jangan ikut-ikutan dong. Isaki merasa bodoh sekali berpikiran seperti itu. Apa karena sudah malam dan otaknya mulai protes karena terlalu banyak dirodikan sepanjang hari itu, atau karena intoksikasi dari jamur yang tumbuh di salah satu pakaian yang ia cuci sehingga membuat pikirannya menjadi meracau? Whatever...

Mulai merasa bosan menunggu, Isaki berjalan menuju tumpukan majalah tidak jauh dari tempatnya, mengacuhkan orang yang duduk disana yang juga sedang menunggu cuciannya.

PYETT

Ah, akhirnya lampunya lawas juga. dalam perjalanan kembali ke kursi menunggunya tadi...

GEDUBRAKSS "AOWW!!"

Ia jatuh tersandung sesuatu. Seingatnya di lantai tidak ada satupun rintangan yang malang melintang dalam perjalanannya mengambil majalah. ....Ah, kaki orang itu... Isaki berusaha bangkit sambil menahan nyeri di tungkainya yang digunakan untuk mencegah agar wajahnya tidak kontak dengan lantai. Terasa kacamatanya miring.

TING!

Mesin cucinya sudah selesai rupanya. Sambil meraba-raba seperti orang buta, ia berjalan perlahan menuju mesin cucinya.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 9:04 pm

Sejujurnya?

Berkhayal-khayal sedikit ke masa lalu membuat Akihiko mengantuk. Huruf-huruf di majalah yang (tidak terlalu begitu) dibacanya mulai menari chacha, maka dilemparnya majalah itu ke kursi sebelah, dan diluruskannya kakinya sambil menguletkan badan: oh, ancang-ancang untuk terbang ke pulau kapuk.

Akihiko baru saja mulai mendengkur halus ketika lampu ruangan ber-byarpet ria dan mati tiba-tiba. Yah. Karena sedikit memiliki kekerabatan dengan bangsa kerbau (setidaknya itu yang ibunya katakan setiap Akihiko tidak kunjung bisa melek walau dia sudah menyalakan tiga weker di samping bantal anaknya tersebut, tak lupa menyemprotnya dengan semprotan tanaman), Akihiko tidak tahu menahu tentang gangguan elektronik itu.

Yang jelas dia terbangun ketika dirasakan kakinya nyaris pengkor karena tertabrak sesuatu.

'AOWW!!'

Ditambah jeritan kaget seseorang.

Dan nyaris ikut-ikutan menjerit seperti anak perawan pula ketika ia terbangun dalam ruangan yang gelap gulita. Enggak gelap banget deh. Ada jendela ventilasi. Tapi di luar kan juga gelap, dengan sedikit sinar rembulan menyusup masuk malu-malu, menciptakan sedikit siluet yang nyaris tidak perlu. Yah. Intinya Akihiko agak syok, gitu.

'TING!'

Didengarnya satu mesin cuci selesai, dan Akihiko melihat samar bahwa satu-satunya orang yang berada di ruangan itu selain dirinya berjalan perlahan menuju mesin cucinya.

TING!

Ah. Mesin cucinya sudah selesai pula rupanya. Serta merta ia bangkit dan dengan penuh percaya diri menuju mesin yang terakhir berbunyi. Nampaknya.

"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Akihiko sambil membuka penutup mesin cuci. Lagipula jeritan orang itu tadi terdengar agak sedikit histeris. Sebagai anak yang baik, Akihiko jadi sedikit cemas.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 10:29 pm

Yah, Isaki dari dulu selalu dijuluki mata burung oleh kakaknya. Bagaimana tidak? Penglihatannya dalam gelap memang sangat jelek. Ah, salahkan gennya yang menyebabkan matanya kekurangan sel batang. Selayaknya ayam di senja hari, Isaki perlahan namun tidak pasti menghampiri lokasi yang kira-kira merupakan tempat mesin cucinya tadi.

"Hei, kamu tidak apa-apa?"

Ah, orang itu pengertian sekali menanyakan keadaannya, padahal gara-gara dia Isaki terjatuh. "Sepertinya," jawab Isaki pendek. Isaki yakin paling tidak pasti sekarang ada memar di tubuhnya entah dimana, jatuhnya tadi kan lumayan keras.

Akhirnya mencapai mesin cucinya, dengan satu gerakan pasti ia membuka pintu mesin dan mengeluarkan pakaian-pakaian di dalamnya ke dalam keranjang yang tersedia di dekatnya. Potongan pakaian terakhir...

PYARR

Ah, nyala! Isaki menatap penuh arti potongan kain yang ia genggam sekarang. Mengerjap-ngerjap seakan-akan belum pernah melihat benda itu di dunia. "WTH?!"

Motif loreng macan itu bersinar lebih terang dari lampu bobrok ruang laundry, membakar image yang membutakan di otak Isaki. "KAPAN AKU PUNYA CELANA DALAM SEPERTI INI?! MEMANGNYA MASIH JAMAN YA PAKAI BEGINIAN??" Siapapun pemilik celana dalam ini pastilah... apa itu namanya?? Isaki ingat seorang siswi bernama, anggap saja, Fujo-chan yang sekolah di seberang sekolah lamanya menyebutnya... --COWO YAOI-- Kalau tidak salah...
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 10:52 pm

'Sepertinya,' jawab orang itu. Akihiko hanya manggut-manggut.

Dalam kegelapan, Akihiko menarik satu per satu propertinya yang ia harap kini sudah bersih kinclong dan bebas dari kuman-kuman nakal. Tarik satu, tarik dua, tarik tiga...

'PYARR'

Lampu menyala dengan gegap gempita ketika Akihiko sedang menarik keluar potongan pakaian yang keempat, terasa begitu ringan, pendek, wangi, lembyut---hoho ini pasti pakaian dalamnya yang perkasa!---dan...

...bermotif burung-burung kecil berbulu kuning?

Akihiko mengerjapkan mata. Kerjap, kerjap.

Bukan sihir bukan sulap. Burung-burung kecil berbulu kuning masih tercetak pada pakaian dalam di tangannya, bertebaran sisi sana-sini, dan berhasil membuat ilusi suara di telinga Akihiko.

'Cuit-cuit! Cuit-cuit! Cuit-cuit! Kami burung-burung kecil yang imut-imut tapi tidak amit-amit dan kami adalah celana dalammu! Huyaahh!'

LE GASP.

Terjebak antara hasrat ingin mengketapel celana dalam itu hingga ke palung Marina atau ingin membakarnya dengan segentong minyak tanah disertai pembacaan doa pembersih jiwa raga, Akihiko yakin properti berlubang tiga sama sekali bukan miliknya karena berani bersumpah atas nama leluhurnya di tanah Jerman sana, ia tidak akan pernah memakai (dan membeli!) pakaian dalam dengan motif yang sangat tidak jantan macam itu.

Tidak, tidak akan pernah, dan tidak akan mau.

Sirkuit otaknya bekerja kencang, sekencang yang diijinkan sel-selnya karena jujur saja, seperti toilet, kadang prosesor Akihiko agak sering mampat--tapi tidak untuk kali ini!--dan menyimpulkan cepat bahwa kalau celana dalam ini bukan miliknya, maka pasti milik...

...anak aneh di sebelahnya ini. Ia melirik ke samping penuh makna.

Hanya untuk melihat anak itu sedang begitu terpatri menatap sebuah kain bermotif loreng mengkilat canggih di tangannya. Seperti pernah lihat. Oh. Hei. Woi. Itu kan.

"Celanaku!" jerit Akihiko disertai dengan pengeluaran aura barbar bangsa Viking.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 11:16 pm

"Celanaku!"

Astaga orang disebelahnya menjerit melengking seperti ibu-ibu yang dompetnya kecopetan, eh, dalam kasus ini celana dalam deh...

Otak Isaki loading sejenak akibat shock lahir batin penampakan celana dalam loreng macan tersebut. "Hah!!" spontan ia menoleh ke sebelah, dan melihat... celana dalam, ehem... kesayangannya disentuh oleh orang lain.

Wajahnya spontan jadi merah padam. "KEMBALIKAN!!" Dalam sepersekian detik, Isaki menyambar celana dalam motif imut itu dan melemparkan celana dalam loreng nista itu ke wajah pemilik aslinya. Mungkin karena shock, ia bahkan tidak sempat merekam wajah orang itu ke dalam memorinya.

ASTAGA ASTAGA ASTAGA Dalam hidup Isaki yang mengetahui "keunikan" selera fashionnya dalam hal celana dalam ini hanya keluarganya, kalau sampai orang lain tahu... Sekelebat, setan pun pasti mengakui bahwa ekspresi Isaki seperti sedang merencanakan 1001 cara terkejam untuk membuat orang itu bungkam.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 11:44 pm

Kejadiannya cukup cepat.

Tahu-tahu si motif burung kecil sudah kembali ke tangan pemiliknya yang lebih berhak, sedangkan Akihiko sendiri megap-megap terbekap celana dalamnya sendiri.

Sempat-sempatnya ia menghirup aroma citrus dari softener yang tadi dipakainya, sebelum Akihiko menarik lepas si motif loreng dari wajahnya. Mau sewangi apapun juga, itu tetap saja kolor, dan Akihiko tidak mau mengambil risiko berjerawat kembali sebagaimana masa pubernya dulu.

Akihiko mendongak, penasaran pada tampang makhluk berkromosom XY yang kiranya masih mengenakan motif burung imut di penghujung usia remaja. Dan menangkap ekspresi 'kamu-telah-melihat-barang-bukti-maka-kamu-harus-mati' yang tertera pada wajah murid berambut hitam tersebut.

Dia menelan ludah.

"Err, aku punya adik laki-laki yang, uhm, umurnya tiga tahun, dan yah... Kadang dia masih minta dipakaikan celana dalam motif polkadot merah. Kalau fakta itu bisa membuatmu lebih tenang," dan Akihiko sadar kalimatnya yang meluncur barusan sangat rancu. "Maksudku, bukan hanya kamu yang punya selera 'unik' perihal dalaman. Ah..."

Makin runyam.

Selamat tinggal, Dunia...

Kadang Akihiko memang suka berpikir berlebihan.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Sep 30, 2008 11:50 pm

"Err, aku punya adik laki-laki yang, uhm, umurnya tiga tahun, dan yah... Kadang dia masih minta dipakaikan celana dalam motif polkadot merah. Kalau fakta itu bisa membuatmu lebih tenang. Maksudku, bukan hanya kamu yang punya selera 'unik' perihal dalaman. Ah..."

Keputusan Isaki sudah bulat, ia akan memasukkan anak laki-laki itu ke dalam mesin cuci, tidak peduli apapun alasan orang itu untuk lolos dari maut. Pasti menarik menyiksa orang dengan mengguling-gulingkannya di dalam mesin cuci... Guling-guling-glinding-glinding... Aah sadisme...

Anak laki-laki berambut pirang itu kini menjauhkan celana dalamnya yang nista dari wajahnya. Isaki mau tahu, senista apa sih tampang pemilik celana dalam nista itu...

Tunggu... Rambut pirang jabrik seperti ga pernah sisiran itu... Tampang ganteng ala gentleman penghuni benua Eropa namun tersirat keculunan itu...

"Kamu... Hiko... bukan...?" meteran nafsu membunuh Isaki sekejap turun mendekati angka nol. Belum nol, karena ia harus menaikkannya lagi kalau-kalau ia salah orang. Mana mungkin... Teman masa kecilnya yang tiba-tiba menghilang ketika ia kelas 1 SMP... Apa benar mereka dipertemukan lagi di akademi "ajaib" ini setelah sekian lamanya terpisah? Kalau benar, saat itu juga Isaki akan setuju bahwa yang namanya nasib itu memang iseng...
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Wed Oct 01, 2008 9:11 am

"Kamu... Hiko... bukan?"

Kegiatan Akihiko yang berupa sedang membuat wasiat dalam kepala terhenti mendadak begitu mendengar namanya disebut. Apa telinga tidak salah? Anak itu memanggilnya...

Hanya satu orang di dunia ini yang boleh memanggilnya Hiko.

Anak laki-laki berambut hitam bermodel cupu, bertampang mafioso Sicily karena beraura dingin-dingin empuk, bermata tajam seakan pandangannya dapat mempenetrasi apapun, serta bermulut rapat karena jarang bicara pada banyak orang; namun jika sedang bersama Akihiko, anak itu bisa berubah menjadi begajul handal dan tetap lolos dari masalah karena tampang alimnya.

Tunggu, tunggu. Deskripsi di atas nampaknya--Akihiko menyipit, memperdalami fitur-fitur wajah anak di depannya--kok agak...

Hm. Hmmmm. Hm-hm-hm-hm-hm.
.
.
.
(konon katanya, ibu Akihiko selalu rutin menjejalkan vitamin yang mengandung DHA yang baik untuk kecepatan berpikir pada anaknya semasa kecil dulu. Mungkin dosisnya tidak mencukupi.)

Hmmmmm. ...

Astaga anak naga menari gaga.

"I-Isaki...?" gumam Akihiko. "Kurotsuki Isaki??" Dan agar lebih semarak: "OH ya ampun, Isacchi!?"
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Wed Oct 01, 2008 8:51 pm

OH ya ampun, Isacchi!?"

Oh baiklah, saat ini dewa nasib pasti sedang tidak ada kerjaan, makanya iseng-iseng mempertemukan dua insan yang dapat membuat dunia diwarnai dengan kekacauan jika dipertemukan. Memang benar ia Hiko... Satu-satunya anak (ah, kalau bisa dibilang anak manusia, karena jelas-jelas semua aspek dalam diri mahkluk itu adalah ke"tidakjelas"an) yang begitu berani menentang maut dengan memanggilnya 'Isacchi', hanyalah Akihiko Sturmwind a.k.a Hiko, teman masa kecilnya.

Isaki ingat, Hiko adalah anak-yang-agak-autis, satu-satunya yang mau (sebenarnya sih lebih tepat disebut 'memaksa') menjadi temannya ketika mereka masih SD. Kenapa begitu? Mungkin karena bawaan lahir Isaki yang membawa hawa-hawa 'menjauh-atau-mati' atau 'awas-menggigit', membuat anak-anak lain harus berpikir 1000 kali kalau mau dekat-dekat dengannya. Padahal sebenarnya, tampang anak berambut hitam ini begitu kiyut terkiyut-kiyut dibumbui dengan tatapan dingin sedingin kulkas yang dapat membuat semua siswi SD saat itu lumer hatinya bak es krim yang ketinggalan di kamar sauna (ah, dasar anak-anak muda jaman sekarang...).

Hiko... Teman masa kecilnya yang ia rindukan... Orang yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri... Sahabat pertamanya... Salah satu individu paling penting dalam hidupnya... Partner in crime-nya... Cint-... Yak, mulai lebay, mulai melenceng...

Isaki memperhatikan fitur lelaki pirang didepannya, menatap lekat mata biru cemelang itu. Dengan tangan masih menggenggam celana dalam motif burung kuning, Isaki berlari ke arah Hiko, disertai background berwarna pastel berkilau-kilau dan tak lupa seruan panjang "Hikooo~~!" yang dramatis, semua terjadi dalam kondisi ter-slow-motion-kan, lalu memeluk orang itu. Oke, hiperbolik. Semua cuma terjadi dalam pikiran Isaki karena pada kenyataannya jarak mereka bahkan tidak sampai semeter. Tapi khusus bagian peluk-pelukan itu beneran terjadi. Peduli amat kata orang, yang namanya kangen ya kangen.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Thu Oct 02, 2008 8:19 am

Akihiko pernah mendengar gosip bahwa ketika ia memberitahu sekolahnya dirinya akan pindah ke Kanada kelas 1 SMP dulu, beberapa guru di kantor mereka melakukan pemanjatan doa syukur bersama, karena akhirnya dua sumber kenestapaan dunia akan berkurang satu dari sekolah mereka. Itu hanya gosip. Tapi cukup menggambarkan betapa duet maut mereka--Isaki dan dirinya--dulu begitu luar biasa.

Memang tidak akan pernah ada yang bisa membayangkan Isaki si gunung es dapat berbuat gila. Heh. Tidak ada, kecuali mereka melihat sendiri, dan itu sangat jarang bisa terjadi, karena begitu situasinya sudah genting, biasanya Akihiko lah yang paling mencolok untuk dijadikan oknum. Dasar Isaki makhluk hoki tak berbudi.

Hoki. Dan tak berbudi. Namun Akihiko tidak bisa menyangkal bahwa anak itu adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.

Apalah dengan mereka sama-sama menyusup masuk ke sekolah putri di seberang jalan dan mengibarkan semua rok murid putri yang bisa mereka temui... Memanjat pohon bersama walau Isaki selalu terpleset hingga benar-benar nyusruk dan Akihiko harus menghentikan lukanya yang mengalirkan darah dengan cara--uhum--agak 'berlebihan'... Membuat satu kelas dilapisi tepung kapur setiap mereka mendapat tugas piket... Menghidupkan kembali seekor kodok praktikum ketika mereka iseng menyetrumnya dengan aki... Drama Romeo dan Juliet dimana mereka mendapat peran utama dan salah satunya harus memakai gaun lalu menempuh adegan terakhir dengan... Ahaha... Tidak usah dibahas yang terakhir itu...

Ahhh... Masa-masa penuh kenistaan yang indah itu...

Semua karena orang ini.

Isaki. Sahabat. Adik. Comrade. Jika Akihiko adalah Shaggy maka Isaki adalah Scooby-doo. Tweety dengan Sylvester. Kacang dengan kulit. Amplop dengan perangko. Inggris dengan Amerika. Rambut dengan ketombe. Dan panu dengan kalpanax.

...Panu?

Tapi Akihiko sudah tidak memikirkannya lagi karena saat itu juga ia dan Isaki sudah berpelukan di tempat, melepaskan segala kerinduan mereka yang meluap-luap seperti Teletubbies yang sudah seratus tahun tidak melakukan kegiatan autis mereka bersama-sama.

Sungguh indah. Sungguh-sungguh pertemuan yang indah.

Walau celana dalam masih tergantung di tangan masing-masing.

Namun itu tidak mengurangi kemesraan mereka. Oh.

"Uke-chan, kamu sudah besar!" seru Akihiko sambil mendengus menahan air mata.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Fri Oct 03, 2008 5:53 am

Sejenak mereka berdua berpelukan, melupakan kenyataan bahwa mereka berdua masih menggenggam celana dalam mereka masing-masing. Sudah dicuci sii, tapi tetap saja, kan nista... sungguh nista... Entah sudah berapa banyak kata nista muncul di episode ini... OK, fokus, fokus...

"Uke-chan, kamu sudah besar!"

Isaki mengangkat salah satu alisnya mendengar pernyataan itu. "Tidak juga, mungkin kamu saja yang tidak tambah tinggi, Seme-kun," Isaki menjawab dengan senyumnya yang paling manis, polos, innocent, angel-like. Ehm, pokoknya senyum yang dapat membuat orang paling tiran pun luluh, mengesampingkan fakta bahwa inti dari kata-katanya dapat membuat para orang suci yang paling sabar pun ingin menyumpal mulutnya yang berkata-kata pedas itu.

"Aa, Seme-kun kenapa bisa ada di sini? Kau juga punya alice ya?" ternyata makhluk kulkas seperti Isaki bisa basa-basi juga...

Oh, sebelum dunia bertanya-tanya kenapa dua insan ini bisa saling memanggil satu sama lain dengan panggilan 'seme-uke', ada baiknya fakta masa lalu dibeberkan sedikit.

Dahulu, mereka berdua mengenal seorang gadis yang bersekolah di seberang sekolah mereka, yang agak-agak maniak, sebut saja anak itu dengan nama Fujo-chan, yang suka tertawa cekikikan ala kuntilanak setiap kali melihat duo Isaki-Hiko. Sembari cekikikan, anak itu juga juga menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, terdengar seperti "Kyaa~ Seme-Uke dalam dunia nyata~" sambil menunjuk-nunjuk mereka berdua. Sejak saat itulah Hiko sering memanggil Isaki dengan sebutan 'uke-chan', dan menyerankan Isaki agar memanggilnya 'seme-kun'. Tidak mengerti maksudnya, dan selayaknya anak baik pada umumnya, Isaki mangut-mangut saja. Walau demikian, pada akhirnya Isaki-Hiko lebih sering memanggil satu sama lain dengan panggilan sehari-hari. Kenapa? Jelas saja, beberapa gadis-gadis langsung memelototi mereka bahkan beberapa sampai menjerit-jerit histeris melihat dua orang anak lelaki dengan tampang, yah dapat dikatakan 'ahoy', saling memanggil dengan sebutan 'entah-apa artinya-itu' itu. Akhir kata, Isaki dan Hiko kadang masih memanggil satu sama lain dengan sebutan yang-hanya-kaum-hawa-yang-tahu-artinya itu, hanya saja saat tidak ada orang lain (terutama anak cewe) di sekitar mereka.

Masih diliputi suasana euforia atas pertemuan yang telah digariskan takdir itu, Isaki melirik celana loreng yang dipegang temannya itu, "Hn~ sekian lama tidak bertemu, seleramu sudah berubah sejauh ini ya~" katanya tanpa melepaskan senyum malaikatnya, memasang tampang sepolos mungkin seakan-akan pernyataan itu adalah pernyataan paling normal yang dapat diungkapkan seorang anak manusia.
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Fri Oct 03, 2008 9:06 pm

"Tidak juga, mungkin kamu saja yang tidak tambah tinggi, Seme-kun."

Yah... Satu hal memang tidak akan pernah berubah dari seorang sahabat lama. Akihiko ada hasrat untuk menyedot lidah kawannya itu dengan vacuum cleaner. Itu cita-citanya semenjak kecil dulu yang belum tersampai hingga kini. Pada akhirnya ia hanya bisa mengelus dada dengan sabar dan meyakinkan diri sendiri bahwa ia sangat mengalami pertumbuhan selama enam tahun belakangan ini.

"Aa, Seme-kun kenapa bisa ada di sini? Kau juga punya alice ya?" tanya Isaki.

"Euh... Itu..." Akihiko sedang tidak begitu berniat menjelaskan alice macam apa yang dimilikinya. Memikirkan nasib masa depannya saja sudah membuatnya bad mood, walau ia tidak sedang menggunakan alice-nya sekalipun. Jadi, ia hanya mengangguk.

Lagipula itu rasanya pertanyaan retoris. Orangnya sudah berada di sini, dia jelas punya alice. Hohoho, nampaknya sekian tahun kecerdasan Isaki mengalami degradasi juga. Tapi itu tidak diutarakan Akihiko keras-keras. Bisa dibilang tendangan karate Isaki cukup bisa membuat korbannya menangis di tempat tidur sambil mengigiti bantal.

Dan apapun itu, semua bisa ditolerir Akihiko begitu ia mendengar Isaki memanggilnya 'seme-kun'. Hei, itu nama yang mengandung nilai sentimentil yang tinggi. Nama yang biasa mereka pakai kalau sedang bermain menjadi agen detektif di halaman belakang sekolah. Dan mengundang segerombolan murid perempuan jejeritan tidak jelas. Sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu. Hooh~

"Hn~ sekian lama tidak bertemu, seleramu sudah berubah sejauh ini ya~" kata Isaki tiba-tiba, arah pandangnya ke arah celana loreng di tangan Akihiko.

Muncul tanda 'plus-plus' di jidat Akihiko, seandainya kalian meperhatikan dengan seksama.

Sahabat atau tidak, makhluk satu ini kadang memang perlu digilas dengan papan cucian milik siswa no star.

"Ha-ha-ha. Itu kata orang yang masih memakai motif burung, kuning pula," balas Akihiko dengan pandangan menusuk (tidak mempan rasanya). "Lagipula sekarang kamu pakai kacamata, eh? Mau menambah kesan dingin-dingin berhadiah, eh? Apa ini? Apa ini? Hohoho."

Akihiko menoel-noel kacamata Isaki dengan penuh iseng dan sedikit penasaran. Apa berhubungan dengan alice yang dimilikinya? Alice macam apa pula?
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Sun Oct 05, 2008 9:39 pm

"Ha-ha-ha. Itu kata orang yang masih memakai motif burung, kuning pula,"

Isaki yakin dalam pikirannya sepintas lewat keinginan untuk mendorong masuk Akihiko ke dalam mesin cuci dan menonton anak pirang itu berguling-guling didalamnya. "A-ha-ha-ha, burung-kuning-masih-dapat-dimafkan-dari-pada-fetish-loreng-loreng," senyumnya masih terpampang di wajah, hanya saja kali ini dari nada bicara dan senyumnya tersebut terasa aura-aura penghuni neraka tingkat 5. Tapi, ya sudah lah, yang tahu juga Hiko yang notabene adalah kawan sehidup-sematinya. Bertambahnya lagi satu aib yang terbongkar tidak terlalu jadi masalah, toh cuma satu... Hiko punya lebih banyak lagi...

"Lagipula sekarang kamu pakai kacamata, eh? Mau menambah kesan dingin-dingin berhadiah, eh? Apa ini? Apa ini? Hohoho."

Isaki sedikit mengelak dan memegangi kacamatanya seolah benda itu adalah benda paling rapuh dan kompleks yang pernah ia miliki. "Bu-bukan" ia menjawab dengan sedikit gugup, "Aku harus mengenakan ini bagaimana pun juga. Hidup dan moralku bergantung pada benda ini," Jelas saja, kacamata itu adalah limiter untuk alicenya. Tanpa benda itu, ia akan mimisan setiap saat dan lambat laun akan ditemukan dalam keadaan kering mengenaskan akibat kurang darah. Selain itu... Akan ada pemandangan-pemandangan yang... Ah, tidak perlu dibahas...

Sebelum topik pembicaraan mereka berlanjut ke alice Isaki, Isaki buru-buru menanyakan mengenai alice Hiko, "Ngomong-ngomong apa alicemu?" Isaki punya feeling kuat bahwa alice kawannya itu tidak kalah nista dari alicenya. Hmm, intuisi Isaki selalu tepat...
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Mon Oct 06, 2008 8:51 pm

"A-ha-ha-ha, burung-kuning-masih-dapat-dimaafkan-dari-pada-fetish-loreng-loreng," ucap Isaki dengan wajah terplester senyum yang membuat akihiko ingin mengambil lakban dan memumikan wajahnya dengan benda tersebut.

Ia agak sedikit mengelak ketika Akihiko menoweli kacamatanya. "Bu-bukan," jawabnya gugup. "Aku harus mengenakan ini bagaimana pun juga. Kelanjutan hidupku bergantung pada benda ini."

Akihiko tertegun sejenak. Apa alice Isaki sebegitu berbahayanya? Mungkin ia memiliki kekuatan seperti Cyclops X-Men, dengan efek negatif kehabisan tenaga jika memakainya terlalu banyak? Mati kering kehabisan energi? Akihiko tidak benar-benar mau menemukan Isaki jadi mumi kering, sungguh!

"Sebegitu bahayanya alice-mu, Isacchi?" tanya Akihiko dengan nada nanar. Namun Isaki cepat-cepat berganti topik.

"Ngomong-ngomong apa alicemu?" katanya.

Ah. Tiba juga pertanyaan yang sangat amat tidak dinanti Akihiko.

"Mmm..." Akihiko menggaruk kepalanya. Ia mengepit pakaian dalam lorengnya di ketiak, lalu menengadahkan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan katun berwarna hitam di hadapan Isaki. "Ini limiternya. Cupid alice. Pernah dengar kan? Jangan tertawa, nanti kusetrika kamu, Isacchi."
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Mon Oct 06, 2008 11:18 pm

"Mmm..." Hiko tampak menggaruk kepalanya. "Ini limiternya. Cupid alice. Pernah dengar kan? Jangan tertawa, nanti kusetrika kamu, Isacchi.", lanjutnya sembari memperlihatkan sarung tangan hitam.

Isaki menyengir. Menyengir. Nyengir. Ya, Nyengir. Tidak berkata apa-apa, hanya menyengir...

Pertama celana dalam loreng, kemudian alice cupid. Beberapa tahun tidak bertemu, Hiko sekarang menjadi orang yang... jauh lebih menarik, dalam artian tanda kutip...

Dengan segenap jiwa raganya berusaha menahan hasrat agar tidak tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling di lantai, Isaki dengan ekspresi ditenang-tenangkan, melemparkan celana dalam "imut" nya ke dalam keranjang cuciannya (yang sebenarnya).

"Well, selamat datang di Alicen Academy, Hiko. Memang bukan tempat yang paling menyenangkan di dunia, tapi berdua, mungkin kita bisa jadikan tempat ini serasa surga (dan neraka bagi orang lain)" kata Isaki sambil tersenyum manis. Benar, SENYUM-MANIS. Senyum yang hanya ia tunjukkan pada segelintir orang di dunia, senyum yang dapat membuat para wanita klepek-klepek tidak berdaya.

"Jam malam sudah hampir tiba, ayo aku tunjukkan asrama anak laki-laki," katanya sambil menenteng sekeranjang penuh pakaian, lalu menuntun Hiko pergi menuju liang peristirahatan para murid akademi.

[OUT]
Back to top Go down
Guest
Guest



PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Tue Oct 07, 2008 4:26 pm

Akihiko tahu Isaki sudah mau menjadi saudara karpet lantai alias berguling-guling di bawah sambil terbahak, namun ia sangat menahan diri, dengan cengiran selebar itu. Ya. Karena jika sampai makhluk itu tertawa, Akihiko akan menggulung Isaki sekaligus dengan karpetnya.

Tidak berubah. Tetap Isaki-nya yang sangat evil. Seperti dulu. Heheh. Dan dia tersenyum manis, senyum yang bisa membuat perawan termehek-mehek memohon pada orang tuanya agar segera menjalankan proses lamaran terhadap keluarga Kurotsuki. Untung Akihiko laki-laki. Tidak mempan lah yau.

"Well, selamat datang di Alicen Academy, Hiko. Memang bukan tempat yang paling menyenangkan di dunia, tapi berdua, mungkin kita bisa jadikan tempat ini serasa surga (dan neraka bagi orang lain)," kata Isaki.

'Biar banyak boroknya di dalam, tapi Isaki kadang bisa bertingkah manis juga,' batin Akihiko. Dan dia pun turut tersenyum lebar.

"Yoi. Trims," balas Akihiko, sambil meluncurkan celana dalam lorengnya (yang agung) ke dalam keranjang miliknya, lalu menyelesaikan sisa perkara per-laundry-an, sampai akhirnya Isaki mengajaknya kembali ke asrama laki-laki.

"Yak, mari pergi, Uke-chan! Hahaha~" seru Akihiko sambil melangkah mengikuti Isaki, mood-nya naik drastis semenjak kesialannya yang bertubi hari ini.

Alice Academy... Ternyata tidak seburuk dugaannya.
.
.
.
Oh ya. Akihiko lupa mengorek lebih lanjut apa alice yang dimiliki Isaki. Tapi itu cerita nanti. Biar saja Akihiko banyak makan ikan, supaya DHA otaknya bertambah.

[OUT]
Back to top Go down
Sponsored content




PostSubject: Re: Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting   Today at 1:41 pm

Back to top Go down
 
Fluffy Yellow & Stripe - a fated meeting
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Fated meeting [Nagisa}
» How do you paint a nice decent bright yellow. Such as would be found on a knight's heraldry?
» My Grot With his lucky yellow spotted Brown snake
» ISCC Meeting 3 - Discussion Thread - Suzuka
» Stock Car Meeting 8 Discussion Thread Sunset (Speedway Reverse)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Abstract School :: Away Away Away :: Finished Thread-
Jump to: