Abstract School

Indonesian Roleplay Forum based on Alice Academy story
 
HomePortalFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 At Café: Topic?

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 5:08 am

" Toilet? Memangnya buat apa?..."


Tokidoki kemudian terkejut ketika mendengar kata-kata Nauka soal pencahar, ia kemudian memegangi perutnya siap-siap kalau saja ia merasakan sesuatu. Namun beberapa saat kemudian tidak terjadi apa-apa, yang ia lihat adalah Nauka yang tersenyum hangat dan mengatakan kalau tadi itu cuma air mineral biasa.


"Fiuuh..."

Tokidoki melap keringat yang sempat bercucuran di wajahnya dan kemudian kembali menatap orang-orang disekitar sana. Penglihatannya sudah kembali seperti semula. Ia kemudian kembali menatap Nauka.


"Ke Hime? Tidak perlu, saya sudah biasa seperti ini "


Ucap Tokidoki kepada Nauka sambil tersenyum , namun sepertinya ia masih merasa sedikit pusing walau hanya sedikit hal itu bisa terlihat dari wajahnya.
Back to top Go down
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 7:20 am

Quote :

"Ke Hime? Tidak perlu, saya sudah biasa seperti ini "

Mata Nauka berubah dan ia menggebrak meja dengan kepalan tangan kanannya. Ia menggertakan giginya dan menghela nafas. Poninya menutupi wajahnya sehingga ekspresinya sulit dibaca.

"Maaf, aku... sedikit tidak stabil hari ini," gumam Nauka pelan sambil menutup matanya dengan tangan kirinya. Ia tampak sedang mengatur nafas pelan-pelan. Beberapa saat kemudian ia mengangkat kepalanya dan kembali berubah hangat.

"...Menurutku sebaiknya kamu tidak membiasakan hal itu."

Tangannya kembali terjulur dan meraih kepala Tokidoki, mengusap-usapnya pelan.

"Ngomong-ngomong," Nauka kembali beralih pada Tokiya, nada bicaranya santai seolah-olah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi. "Kamu mendaftarkan diri pada SMT tanpa tahu siapa aku?"
Back to top Go down
View user profile
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 1:11 pm

“Ah, sepertinya itu pesananku datang. Anyway, terima kasih sudah menawarkan,” tolak Ennis Seiei padanya ketika pesanannya datang. Dia terlihat senang dengan kedatangan pesanannya, tentu saja. Toh sekarang memang sudah jam makan malam dan dia tentunya sudah lapar. Tokiya menarik piringnya kembali.

"Kamu... salah satu anaknya?!" kata pria tersebut. Kemudian dia memberi tahukan namanya dengan sedikit ragu-ragu, "Nauka. Tokidoki lupa dengan batas kekuatannya sendiri."

Mendengar kalimat pertama, Tokiya mengangkat salah satu alisnya. Apa yang orang itu bicarakan? Dia tak mengerti sama sekali. "Anak apa maksudmu? Tentu saja aku anak muridnya. Walau dia hanya guru di ruang kesehatan dia tetaplah guru, bukan begitu?" katanya dengan nada biasa-biasa saja.

“Hei Isaki, kamu mau mencobanya? Sini kusuapi—Aaa,” Tokiya langsung menatap gadis itu. Dia sedang mencoba menyuapi Isaki crème soup yang tadi dipesannya. Sedetik Tokiya merasa dadanya panas, entah kenapa. Dia menatap dadanya sendiri dengan pandangan ingin tahu. "...?" Tapi tak ada yang aneh. Dia kembali menoleh pada Isaki dan ingin mengucapkan sesuatu tentang hal menyuapi, namun pria itu kembali bicara padanya setelah menawarkan Rikugou obat dan air mineral sehingga dia mengalihkan perhatiannya dari Isaki.

"Kamu mendaftarkan diri pada SMT tanpa tahu siapa aku?"

"...SMT?" Tokiya sedikit bingung dengan pertanyaannya sesaat, namun langsung teringat bahwa tadi pagi dia masuk ke ruangan klub dan iseng mendaftar ke salah satu klub disana. "SMT... Sindikat Monyet Terbang? Ya, aku mendaftar. Tapi... Yah, aku tak tahu siapa ketuanya dan kegiatan klub tersebut dirahasiakan. Jadi... apakah kau ketuanya?" tanyanya pada pria itu. Tokiya memperhatikan Rikugou yang kini duduk disamping pria bernama Nauka itu, tapi tak mengatakan apapun dan hanya menunggu jawaban pria itu.
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 9:04 pm

Begitu mendengar penjelasan Tokiya tentang hubungannya dengan Hime, pipi Nauka langsung bersemu merah. Tapi ia segera membuang mukanya untuk menyembunyikan ekspresinya itu. Ketika ia kembali menoleh pada gadis itu, semunya telah hilang dan digantikan oleh ekspresi tenang.

Nauka memperhatikan gadis di depannya yang sesaat memperhatikan gadis lain yang belum ia kenal menyuapi Isaki. Wajah Tokiya sedikit berubah saat ia memperhatikan dadanya sendiri. Melihat itu Nauka spontan setengah tersenyum.

Pria muda itu tidak bicara banyak dan menunggu reaksi lagi dari Tokiya. Dan beberapa saat kemudian Tokiya menanyakan statusnya di SMT.

Ia membalas pertanyaan itu dengan sebuah gelengan pelan dan sesungging senyum yang sulit dibaca apa maksudnya.

"Aku bukan ketuanya, tapi memang aku-lah yang menaruh papan pengumuman itu," jelas Nauka singkat. Ia lalu melirik ke arah Isaki sebentar, lalu kembali kepada Tokiya. "Apa kamu tetap mau ikut dengan kelompok kami?"

"Mungkin... akan sulit untuk terus bersama dia," kalimat itu diucapkan dalam bisikan kecil yang terdengar lirih, tegas dan juga serius.
Back to top Go down
View user profile
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 11:10 pm

"Apa kamu tetap mau ikut dengan kelompok kami? Mungkin... akan sulit untuk terus bersama dia," bisik pria itu padanya.

Lagi-lagi Tokiya mengangkat sebelah alisnya. Dia merasa bingung dengan arti dari kata-kata sulit bersama yang tadi diucapkan pria berkacamata itu. Tokiya kini memandang Isaki lagi, mencoba bertanya padanya melalui kontak mata tentang apa arti kata-kata pria itu. Tapi Tokiya ragu Isaki mendengarnya dan memalingkan tatapannya pada piring Chocolate Fondue miliknya yang sama sekali belum dia makan.

Sulit bersama?

Tak diragukan lagi dia memang sangat merindukan Isaki. Jelas itu karena dia sudah tak bertemu dengannya selama setahun juga karena dia tak berpamitan padanya ketika dia pindah kemari. Dan yang paling jelas adalah dia memang merasa kesepian. Dan ketika dia melihatnya untuk yang pertamakalinya dalam setahun ini tadi siang, hatinya mau tak mau diliputi rasa senang yang menentramkan.

Isaki, teman masa kecilnya, cowok yang berpenampilan mirip dengannya dan orang-orang seringkali menyangka mereka anak kembar, cowok yang sebaya dengannya yang mempunyai hubungan paling dekat dengannya jika dibandingkan yang lain, sekali lagi kini berada didekatnya. Perasaan sepi selama setahun ini nyaris sirna ketika melihatnya berada disini. Akhirnya dia mempunyai orang terdekatnya selain pamannya berada disisinya, bagaimana mungkin dia tidak merasa senang?

Sulit bersama...

Sesungguhnya dia juga ingin ikut dengan kelompok tersebut--lebih karena rasa ingin tahunya, tapi apakah kegiatan mereka sungguh menyita waktu sampai-sampai dia akan jarang bertemu dengan Isaki?

Kemudian dia ingat satu hal.

"Jika memang ada anggota disana yang perempuan... kemungkinan besar aku ikut," katanya kalem, sekarang menyuap porsinya sesendok kecil. "Tapi, kuragukan kau akan menerimaku. Di lembar pendaftaran kau menyuruh kami para pendaftar untuk menyebutkan Alice dan kegunaannya, dan kurasa Alice-ku tidak istimewa," katanya lagi setelah menelan makanannya.

Pandangannya masih tertuju pada piringnya, dan tanpa sadar dia berpegangan pada lengan Isaki--agak tak terlihat karena tertutup meja. Pandangannya agak melamun. Bicara soal Alice, dia tak tahu apakah dia akan terus menggunakan Alice-nya. Setiap kali dia memakainya, dalam kurun waktu 24 jam dia akan menderita penyakit. Ringan atau berat tergantung beban Alice orang yang dicopy.

Sekali lagi dia memandang Isaki, wajahnya agak cemas. Matanya memperlihatkan kegelisahan. Amankah baginya untuk terus menggunakan kemampuan istimewanya itu?
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 11:11 pm

"Apa kamu tetap mau ikut dengan kelompok kami? Mungkin... akan sulit untuk terus bersama dia," bisik pria itu padanya.

Lagi-lagi Tokiya mengangkat sebelah alisnya. Dia merasa bingung dengan arti dari kata-kata sulit bersama yang tadi diucapkan pria berkacamata itu. Tokiya kini memandang Isaki lagi, mencoba bertanya padanya melalui kontak mata tentang apa arti kata-kata pria itu. Tapi Tokiya ragu Isaki mendengarnya dan memalingkan tatapannya pada piring Chocolate Fondue miliknya yang sama sekali belum dia makan.

Sulit bersama?

Tak diragukan lagi dia memang sangat merindukan Isaki. Jelas itu karena dia sudah tak bertemu dengannya selama setahun juga karena dia tak berpamitan padanya ketika dia pindah kemari. Dan yang paling jelas adalah dia memang merasa kesepian. Dan ketika dia melihatnya untuk yang pertamakalinya dalam setahun ini tadi siang, hatinya mau tak mau diliputi rasa senang yang menentramkan.

Isaki, teman masa kecilnya, cowok yang berpenampilan mirip dengannya dan orang-orang seringkali menyangka mereka anak kembar, cowok yang sebaya dengannya yang mempunyai hubungan paling dekat dengannya jika dibandingkan yang lain, sekali lagi kini berada didekatnya. Perasaan sepi selama setahun ini nyaris sirna ketika melihatnya berada disini. Akhirnya dia mempunyai orang terdekatnya selain pamannya berada disisinya, bagaimana mungkin dia tidak merasa senang?

Sulit bersama...

Sesungguhnya dia juga ingin ikut dengan kelompok tersebut--lebih karena rasa ingin tahunya, tapi apakah kegiatan mereka sungguh menyita waktu sampai-sampai dia akan jarang bertemu dengan Isaki?

Kemudian dia ingat satu hal.

"Jika memang ada anggota disana yang perempuan... kemungkinan besar aku ikut," katanya kalem, sekarang menyuap porsinya sesendok kecil. "Tapi, kuragukan kau akan menerimaku. Di lembar pendaftaran kau menyuruh kami para pendaftar untuk menyebutkan Alice dan kegunaannya, dan kurasa Alice-ku tidak istimewa," katanya lagi setelah menelan makanannya.

Pandangannya masih tertuju pada piringnya, dan tanpa sadar dia berpegangan pada lengan Isaki--agak tak terlihat karena tertutup meja. Pandangannya agak melamun. Bicara soal Alice, dia tak tahu apakah dia akan terus menggunakan Alice-nya. Setiap kali dia memakainya, dalam kurun waktu 24 jam dia akan menderita penyakit. Ringan atau berat tergantung beban Alice orang yang dicopy.

Sekali lagi dia memandang Isaki, wajahnya agak cemas. Matanya memperlihatkan kegelisahan. Amankah baginya untuk terus menggunakan kemampuan istimewanya itu?
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sun Sep 14, 2008 11:40 pm

"Tentu saja!" balas Nauka cepat. Beberapa saat kemudian ia menyadari jawaban itu sangat ambigu. "Maksudku, tentu saja ada perempuan. Kami bukan kelompok sexist. Dan--" Nauka menggigit bibir bawahnya, menghentikan ucapannya sendiri. Ia memutar bola matanya dan melempar pandangannya ke arah jendela, lalu kembali pada Tokiya dengan senyuman janggal.

"Dan Alice tidak berpengaruh untuk penerimaan," jelasnya. Dari nada bicaranya, terdengar bahwa penjelasan itu bukan lanjutan dari kalimat yang terpotong sebelumnya. Tapi Nauka melanjutkan sebelum seorangpun mempertanyakan kalimat terpotong itu. "Aku hanya ingin tahu Alicemu agar... tidak ada 'penyimpangan' dalam kelompok. Misalnya ada yang membocorkan informasi diam-diam dengan telepati."

"Jadi berguna-atau tidaknya alice-mu tidak masalah bagiku, asal kamu memang menarik" Nauka kembali tersenyum hangat. "Intinya; aku tidak peduli dengan alice-mu, aku peduli pada dirimu."

Tiba-tiba ia bertanya, "Kenapa kamu ingin masuk tim kami?"
Back to top Go down
View user profile
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 3:04 am

"Kenapa?" Tokiya bingung, masih berpegangan pada lengan Isaki.

Jelas ini membuatnya benar-benar kaget. Well, jujur saja, dia hanya mau tahu kenapa kegiatan tersebut dirahasiakan. Dan itu tidak salah, kan? Keingintahuan membuatnya mendaftar masuk ke kelompok itu. Lalu, kini dirinya dibawa pada pertanyaan lainnya. Peduli pada dirinya? Tentu ini agak mencurigakan dan membuat Tokiya sedikit menyipitkan matanya, tak terlalu kentara. "Kau bilang asalkan diriku menarik? Aku tak merasa menarik. Jujur saja, kalau aku orang yang menarik pastinya aku mempunyai banyak kenalan disini," ucapnya kalem dan sopan, "tapi kenyataannya tidak seperti itu."

Tokiya meminum Hot Milk-nya sedikit dengan anggun. Dia melirik Ennis Seiei dari ujung matanya sekilas, kemudian meneguk sedikit lagi Hot Milk-nya. "Dan kau bicara soal 'penyimpangan'. Sebegitu berharganyakah informasi dari kelompok SMT itu sehingga kau membutuhkan keterangan Alice setiap anggota?" tanyanya sambil meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. Dia kembali memandang Rikugou, bertanya-tanya dalam hati apakah memang dia sudah tak perlu menemui Osaki Hime-sensei. Tapi dia tak menyuarakan apapun tentang hal itu.

"Juga," katanya lambat-lambat, "apakah kegiatan kelompok itu menyita waktuku sedemikian banyaknya sehingga aku tak mempunyai cukup waktu luang untuk diriku pribadi?" Tokiya menatap lurus pria itu dengan pandangan datar, walau pegangannya di lengan Isaki menjadi sedikit lebih erat.
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 3:15 am

Nauka mengjulurkan telunjuk tangan kanannya tepat ke depan wajah Tokiya dengan senyum serius. Matanya yang menyembul di balik kacamata dan poninya pun terlihat sama seriusnya.

"Jangan melihat hanya dari satu sisi," Nada suaranya tegas, tapi senyum seriusnya mencair dan berubah hangat. "Apa yang bagi orang lain tidak menarik--apa yang bagi dirimu tidak menarik--belum tentu tidak menarik bagi kami--bagiku."

Ia lalu menarik tangan kanannya dan menggunakannya untuk menopang dagu. Tanpa ragu ia membalas pandangan lurus gadis itu. Mungkin justru lebih lurus dan jauh lebih dalam, seperti mata pemburu yang mencari-cari. Ia telah kembali menjadi dirinya yang sebelumnya ditunjukan pada Tokidoki. Sesekali ia melirik ke arah Tokidoki, memastikan bocah itu tidak akan memperingatkan Tokiya, memastikan Tokidoki tidak berpihak pada gadis itu.

"Kegiatan kelompok kami... tidak jelas. Kami tidak pernah memiliki agenda khusus," jelasnya, matanya kembali fokus pada kedua bola mata Tokiya. "Tapi jika kami memang memiliki 'misi', maka kamu sebaiknya datang." Ada sedikit nada mengancam pada kata 'sebaiknya', namun nada itu seperti nada yang sudah dicoba sebisa mungkin untuk ditahan.

"Dan ya, beberapa misi kami memang sedikit... mengganggu kegiatan pribadi."
Back to top Go down
View user profile
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 3:53 am

Tokidoki hanya mengangguk saat Nauka meminta maaf karena kelakuanya yang tiba-tiba saja berubah. Tapi walaupun mengangguk dan tersenyum , sepertinya Tokidoki akan tetap membiasakan hal yang tadi dilarang oleh Nauka...tentu saja secara sembunyi-sembunyi jika ia tidak ingin dimarahi seperti tadi lagi.


"Kukira semua peserta ujiannya sama!"


Pikir Tokidoki melihat Nauka yang sedang menilai Tokiya dengan cara yang jelas berbeda dengan cara yang ia lalui untuk memasuki SMT. Apakah karena Tokiya perempuan, nasib...nasib...Karena Nauka terlihat serius Tokidoki jadi tidak memiliki niatan untuk menganggu pembicaraan mereka berdua
Back to top Go down
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 1:02 pm

Tokiya menatap jari yang diacungkan tepat dihadapannya. "Jangan melihat hanya dari satu sisi," kata pria itu dengan senyum terpasang diwajahnya, "Apa yang bagi orang lain tidak menarik--apa yang bagi dirimu tidak menarik--belum tentu tidak menarik bagi kami--bagiku."

"..."

Tokiya kembali menurunkan pandangannya ke piring Chocolate Fondue-nya, tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengulang-ulang kalimat pria itu dalam pikirannya. Ya, benar, pandangan tentang 'menarik' bagi setiap orang tentunya berbeda-beda. Tidak mungkin semua memiliki rasa ketertarikan yang sama pada suatu hal.

"Kegiatan kelompok kami... tidak jelas. Kami tidak pernah memiliki agenda khusus," jelasnya. "Tapi jika kami memang memiliki 'misi', maka kamu sebaiknya datang. Dan ya, beberapa misi kami memang sedikit... mengganggu kegiatan pribadi."

Tokiya kembali menatap matanya, menunjukkan sedikit ketertarikan pada kata 'misi'. Namun penekanan pada kata 'sebaiknya' yang telah diucapkan oleh pria itu membuatnya kembali memiliki perasaan aneh dan kecurigaan tentang apa yang ada dibalik kegiatan kelompok tersebut.

"Mengganggu kegiatan pribadi..." katanya pada akhirnya, "tak bisakah dia ikut?" Tokiya menunjuk Isaki dengan gerakan kecil kepalanya. Dia berharap dengan begini setidaknya mereka masih mempunyai kesempatan untuk bersama karena satu kegiatan. Dia tahu ini sepertinya memaksa, tapi dia, dari dalam hatinya, mempunyai keinginan untuk selalu bersama dengan Isaki. Dia bahkan tak menanyakan pada Isaki apakah dia mau ikut atau tidak. Satu-satunya kontak yang dilakukannya saat ini pada Isaki hanyalah cengkeraman pada lengannya yang semakin erat.

"Aku tak tahu misi apa yang kalian lakukan," katanya tiba-tiba, masih dengan suara kalem, "dan aku masih punya hak untuk menolak tawaran ini. Sejauh ini kau hanya bertanya apakah aku mau bergabung. Aku tahu akulah yang mengajukan diri untuk mendaftar, tapi aku juga dapat membatalkannya, kan?" Kemudian dia agak cepat menambahkan, "Tidak, aku belum tentu menolaknya."
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 5:29 pm

“Hei Isaki, kamu mau mencobanya? Sini kusuapi—Aaa,” Ennis mengarahkan sesendok crème soup kepadanya. Isaki tersenyum kecil, "Tidak, terima kasih," lalu memalingkan wajahnya ke choco fonduenya sendiri dan memakan sesuap.

Tokiya dan pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Nauka itu lalu membicarakan sesuatu. Sesuatu yang terdengar seperti... SMT? Sindikat Monyet Terbang? Apa itu? Nama klub? Aneh sekali namanya... Tokiya sepertinya berniat bergabung namun suatu hal membuat gadis itu ragu. Tokiya memandangnya dan tampak bingung. Karena tidak mengerti sama sekali apa yang sedang Tokiya dan Nauka bicarakan, Isaki hanya diam saja. Isaki sedikit kaget ketika Tokiya tiba-tiba memegang lengannya dan menatapnya. Tatapannya terlihat bingung. Dari kata-kata Nauka, SMT terdengar seperti klub yang... mencurigakan. Dalam hati Isaki ingin menyarankan agar Tokiya menghindari klub ini, tapi ia mengurungkan niatnya. Bergabung atau tidak adalah sepenuhnya hak gadis itu.

"tak bisakah dia ikut?" kata Tokiya mengacu pada dirinya. Isaki spontan menoleh pada gadis itu, kaget. Baru juga masuk ke sekolah barunya, ia sudah dibawa-bawa untuk bergabung dengan klub yang tidak jelas? "Hei, tunggu Toki... Kenapa aku juga dibawa-bawa? SMT atau apapun nama klub itu, kau yakin ingin bergabung?" tanya Isaki dengan sedikit terdengar cemas dalam nada bicaranya.

Isaki ganti menatap tajam Nauka. Pria yang mencurigakan...
Back to top Go down
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 6:08 pm

"Hei, tunggu Toki... Kenapa aku juga dibawa-bawa? SMT atau apapun nama klub itu, kau yakin ingin bergabung?" tanya Isaki padanya dengan nada cemas dan kemudian dia memandang pria tersebut.

Tokiya tak memandang Isaki, dia mengalihkan pandangannya dari pria itu dan menatap piringnya lagi. Jadi dia tidak mau... Tokiya langsung melepaskan lengan Isaki dengan (lagi-lagi) setengah sadar. Baiklah. Jika dia tidak mau, aku tak bisa memaksanya.

"Untuk permulaan," katanya pada pria itu sambil menyendok Fonduenya sesuap dan menelannya, "bagaimana jika kau memberitahuku satu misi atau kegiatan yang ada dalam kelompok SMT itu?" Sebenarnya dia tahu itu pertanyaan yang sia-sia karena bagaimanapun pria itu telah menjelaskan di pengumuman tentang kerahasiaannya.

Sambil melamun, Tokiya memotong-motong Fonduenya dengan asal saja tanpa memakannya. Isaki tak mau ikut masuk ke kelompok tersebut, dan jika masuk ke kelompok tersebut dia akan kehilangan banyak waktu untuk bisa bermain dengan sahabat yang dirindukannya itu. Tapi...
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Mon Sep 15, 2008 7:32 pm

Kini Tokiya melepaskan pegangannya. "Untuk permulaan," kata Tokiya pada pria itu sambil menyendok Fonduenya sesuap dan menelannya, "bagaimana jika kau memberitahuku satu misi atau kegiatan yang ada dalam kelompok SMT itu?"

Isaki memandang cemas gadis itu. Ternyata ia benar-benar ingin bergabung ya... batin Isaki kecewa. Secara pribadi ia tidak ingin Tokiya terlibat dengan klub mencurigakan itu. Tapi jika ia memang ingin bergabung, yah Isaki tidak bisa melarang. Keputusan untuk bergabung dengan klub seperti apapun sepenuhnya hak gadis itu. Isaki menghela napas. Dari kecil ia yang selalu melindungi Tokiya dari masalah dan kali ini gadis itu sepertinya menerjunkan dirinya sendiri ke klub ber'masalah'. Sepertinya tidak ada cara lain. Satu-satunya cara untuk mengawasi teman masa kecilnya itu agar jauh dari masalah...

"Hei... Nauka-san. Klub yang namanya SMT itu... Apa aku masih bisa bergabung?" tanyanya sambil menatap tajam Nauka.
Back to top Go down
Ennis Seiei
Single Star
Single Star


Posts : 618
Join date : 2008-09-01
Age : 24

Character Sheet
Alice: Love
Class: A - High School
Self Quote: Hentai itu seni! Loli itu hobi!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Tue Sep 16, 2008 7:07 pm

Ennis sekali lagi menyuapkan sesendok crème soup ke mulutnya. Dia terus menyantap makanan yang ada dihadapannya karena sejujurnya dia tidak tertarik dengan pembicaraan mengenai klub yang disebut SMT. Biarkan mereka membahasnya hingga tuntas—Ennis tidak mau mengganggunya. Yah, hanya saja, walaupun Ennis memilih untuk tidak ikut berbicara, namun tetap saja dia yang berada di maja yang sama dapat mendengarkan pembicaraan mereka. Dari yang Ennis dengar, sepertinya Isaki dan Tokiya cukup tertarik untuk bergabung dengan klub itu. Hal tersebut akhirnya membuat Ennis menjadi tertarik dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Dia sekarang berpikir, apa sebaiknya dia juga ikut bergabung dengan SMT? Maksudnya, jika dia dan Isaki ikut bergabung dengan klub tersebut, mungkin Ennis akan bisa lebih mengenal sosok pemuda tampan itu, bukan?

Diambilnya sepotong garlic bread yang belum sempat dia sentuh sebelumnya, lalu dimakannya potongan roti itu hingga habis. Cukup lezat, apalagi jika roti itu dimakan bersama dengan crème soup yang dia pesan. Ennis juga sempat meminum seteguk lemon tea hangat yang dipesannya, sebelum akhirnya dia mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya—membahas tentang tentang klub bernama Sindikat Monyet Terbang atau apapun itu, “Hei, Isaki, Tokiya… Kalian serius mau ikut bergabung dengan klub yang sedang kalian bicarakan itu?” katanya penasaran. “Hmm, apa sebaiknya aku ikut bergabung juga ya? Maksudku, kalau kalian ikut, sepertinya tidak ada salahnya kalau aku ikut juga, kan?" gumam Ennis pelan—tidak jelas apakah kalimat pertanyaan itu ditujukan pada orang lain atau dirinya sendiri. Well, she doesn’t have so many friends here in Abstract School.
Back to top Go down
View user profile
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Wed Sep 17, 2008 7:04 am

Nauka mendengar gadis itu berkata akan menolak masuk ke dalam SMT, matanya berkilat dan senyumnya berubah.

"Tidak, kamu tidak bisa menolak," ujarnya dengan nada rendah dan terkesan berotoritas. Sesaat kemudian ia menyadari nadanya dan kalimatnya mampu membuat siapapun takut dan mendapatkan kesan yang salah. Cepat-cepat ia menjelaskan, "Pertama, karena aku tidak mengajakmu masuk, jadi tak ada alasan untuk menolak."

"Aku belum bilang kamu diterima," suaranya terdengar lembut tapi tegas.

Ia lalu tersenyum, "Alasan kedua kutempelkan di papan pengumuman."

Tokiya lalu mengganti pertanyaannya dengan pertanyaan soal misi. Nauka hanya tertawa kecil, raut wajahnya menyimpan beribu misteri.

Di luar dugaan, ia membuka mulut, "Hahaha, misi kami... adalah untuk mendapatkan visi kami. Dan kalau kau ingat apa visi kami tersebut, tentu kamu sadar kalau ada beribu cara untuk mendapatkannya--hanya saja sering... terlupakan. "

Lalu Isaki bertanya--tidak, menawarkan diri, meskipun dengan nada paksaan (atau mungkin tidak, karena gadis bernama Tokiya itu tampaknya berbakat dalam hal persuasif; setidaknya untuk Isaki), untuk bergabung dengan SMT.

Secara refleks Nauka mengangkat sebelah alisnya, caranya merespon dengan ekspresi terlihat sangat kekanakan, seolah-olah ia tidak pernah sepenuhnya berubah dewasa meskipun badannya menjadi tinggi, bahunya menjadi bidang dan suaranya terkesan penuh wibawa. Segala gestur tubuhnya; caranya duduk, melirik jam lalu sekali-kali menatap Tokidoki dengan pandangan khawatir, caranya menopang dagunya dengan dua tangan--ya, dua tangan yang menutupi seluruh dagunya, caranya tersenyum yang maknanya terus berubah-ubah seperti emosi anak yang labil.

Sorot mata Isaki yang tajam segera dibalas dengan kilatan menyayat dari sorot matanya yang hanya beberapa detik itu. Pandangan menusuk dibalas dengan pandangan yang mengiris--mengupas lapis demi lapis seolah-olah lapar untuk melihat isinya.

Ia mengangkat bahu pelan lalu mengalihkan pandangannya keluar, menerawang jauh. Matanya terlihat fokus, tapi ia tidak seperti melihat sesuatu yang nyata; lebih seperti melihat ke dunia antah-berantah dimana seekor naga akan keluar dari guanya hanya untuk dibunuh oleh sang pangeran.

Beberapa saat kemudian ia menghela nafas dan kembali beralih pada Isaki, "Maaf, tapi... tidak. Aku tidak bisa menerimamu karena kamu mendaftar telat. Maksudku, tidak sekarang."

Tiba-tiba gadis lain yang dari tadi terlihat pasif membuka mulutnya, mengutarakan idenya untuk bergabung juga.

Kali ini Nauka mengernyit. Setidaknya gadis itu tidak bertanya langsung pada dirinya, karena jika gadis itu benar-benar meminta masuk, Nauka tampak sulit untuk menolaknya.

Bukan karena ia seorang gadis, tapi karena kepasifannya.

Nauka kali ini menepukan tangannya pada pundak Tokidoki.

"Bagaimana menurutmu?" suaranya serius. Tepukannya barusan seperti sebuah tanda bahwa Tokidoki kini sudah dapat menerima sebagian tanggung jawab dan hak-nya sebagai member SMT. "Menurutmu... apakah sebaiknya mereka diterima?"
Back to top Go down
View user profile
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Wed Sep 17, 2008 12:05 pm

Quote :
"Bagaimana menurutmu?"


"Kalau menurut saya , kalau tidak punya keinginan untuk bergabung sepenuh hati sebaiknya tidak usah dipaksankan...daripada nanti menyesal di suatu saat nanti...tapi ya....saya juga tidak bisa bilang ' tolak saja mereka ' saya bahkan belum mengenal SMT ini secara penuh, jadi saya tidak dapat sembarangan menentukan bisa tidaknya mereka memasuki SMT...jadi...mungkin pendapat senior bisa lebih membantu.."

Kata Toki sambil memainkan sendok yang berada ditangannya, dengan raut wajah serius tapi tidak terlalu serius yang kemudian melirik ke arah Nauka dan bergantian ke orang-orang yang ada disana. Toki tidak tersenyum seperti biasanya, ia tahu ini masalah yang lumayan serius sehingga jika ia sedikit saja melakukan kesalahan, pastilah dirinya akan merasa bersalah di suatu saat nanti.


"Kesimpulannya....aku jiga tidak tahu...apa kalian benar-benar ingin bergabung?"


Toki bertanya kepada ketiga orang yang berada disana [tentunya selain nauka]. Dengan pandangan yang tidak biasanya. Toki sebenarnya juga bingung harus menjawab apa. Ia hanyalah anggota baru yang tidak tahu terlalu banyak tentang SMT, suatu organisasi(?) yang baru saja ia masuki (dimasukan) .
Back to top Go down
Itsuki Tokiya
Homeroom Teacher
Homeroom Teacher


Posts : 1219
Join date : 2008-09-01
Age : 27
Location : Namimori Koukou

Character Sheet
Alice: Copycat Alice
Class: B Senior High
Self Quote: Give me your respect, and I'll respect you back.

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Wed Sep 17, 2008 1:37 pm

Tokiya mendadak mempunyai perasaan ringan yang menyenangkan. Jadi dia sebenarnya tidak diminta bergabung atau diterima. Tokiya kembali meminum Hot Milk-nya, tersenyum ketika menyeruput minumannya sedikit-sedikit. Dengan begini, jika dia tidak diterima, dia dapat menghabiskan waktunya dengan Isaki. Setidaknya untuk berbicara.

"Hei... Nauka-san. Klub yang namanya SMT itu... Apa aku masih bisa bergabung?"

Dia langsung menoleh pada Isaki. Dia mau ikut? Kusangka dia tadi tak mau. Tokiya segera menurunkan cangkirnya dan meletakkannya kembali ke atas meja untuk kesekian kalinya. Dia menunggu jawaban pria berambut biru tersebut, siapa tahu Isaki diizinkan bergabung.

"Maaf, tapi... tidak. Aku tidak bisa menerimamu karena kamu mendaftar telat. Maksudku, tidak sekarang." lalu dia mengernyit pada Ennis Seiei yang juga bertanya apakah dia juga sebaiknya bergabung jika mereka berdua ikut, kemudian menoleh pada Rikugou dan menanyakan pendapatnya. "Bagaimana menurutmu? Menurutmu... apakah sebaiknya mereka diterima?"

"Kalau menurut saya , kalau tidak punya keinginan untuk bergabung sepenuh hati sebaiknya tidak usah dipaksankan...daripada nanti menyesal di suatu saat nanti...tapi ya....saya juga tidak bisa bilang ' tolak saja mereka ' saya bahkan belum mengenal SMT ini secara penuh, jadi saya tidak dapat sembarangan menentukan bisa tidaknya mereka memasuki SMT...jadi...mungkin pendapat senior bisa lebih membantu... Kesimpulannya....aku jiga tidak tahu...apa kalian benar-benar ingin bergabung?"

Gadis berambut hitam itu masih tersenyum samar ketika Rikugou mengutarakan pendapatnya. Ya, lebih baik seperti itu. Pendapat Rikugou sangat bagus, dan dia tak berniat memberikan komentar lain untuk melawan kata-katanya. Rikugou bertanya bahwa apakah mereka benar-benar ingin bergabung, maka dia akan menjawabnya dengan apa yang dia pikirkan sekarang. "Kujawab saja, tidak. Ketika aku mendaftarkan diri, ya, aku ingin bergabung. Tapi sekarang, tidak lagi. Jika dengan bergabung maka aku akan tak mempunyai waktu untuk bersama dengannya, aku tak mau," kata Tokiya mantap, terdorong oleh kata-kata Rikugou.

Sekali lagi, tangannya meraih lengan Isaki, masih dengan senyum samar menghiasi wajahnya. Dia memakan sesuap Chocolate Fondue-nya dan menelannya. "Jadi, Nauka-san, lebih baik kau tak usah mempertimbangkanku lagi. Tak usah repot-repot," katanya dengan sopan, dan menambahkan, "anggap saja pendaftaranku itu tak ada." Kemudian, tanpa mempedulikan respon dari yang lainnya, dia menarik Isaki keluar kafe setelah mengatakan pada pelayan kafe "Itsuki Tokiya, Vice-Principal B Senior High, alamatkan semua tagihan padaku," dan keluar pintu kafe.

Angin malam yang dingin langsung membuatnya kedinginan diluar pintu kafe. Tokiya merapatkan dirinya pada Isaki, masih merangkul lengannya, dan berkata padanya, "Boleh minta satu permohonan aneh?" Dia menatap Isaki dan melanjutkan, "Gendong aku seperti dulu? Jika tak mau, tak apa."

Mau tak mau Tokiya kini tersenyum tulus padanya, merasa hatinya ringan ketika tahu kini dia akan mempunyai banyak waktu berama Isaki seperti dulu.
Back to top Go down
View user profile http://tokiya-ensui.livejournal.com
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Thu Sep 18, 2008 1:13 am

Setelah bertanya pada Nauka, Isaki diam menatap pria itu, menunggu jawaban. Ia dapat merasakan tatapan Nauka pada dirinya, tatapan yang serasa berusaha untuk menggali jauh ke dalam dirinya. Terus terang saja ia nyaman dipandangi seperti itu. "Maaf, tapi... tidak. Aku tidak bisa menerimamu karena kamu mendaftar telat. Maksudku, tidak sekarang." jawab pria itu. Isaki merasa sedikit kecewa mendengar jawaban itu. Bukan karena ia ingin bergabung, tapi karena gadis yang bernama Tokiya itu...

"Bagaimana menurutmu? Menurutmu... apakah sebaiknya mereka diterima?" sekarang pria berambut biru itu meminta pendapat anak yang datang bersamanya tadi. "Kalau menurut saya , kalau tidak punya keinginan untuk bergabung sepenuh hati sebaiknya tidak usah dipaksankan...daripada nanti menyesal di suatu saat nanti...tapi ya....saya juga tidak bisa bilang ' tolak saja mereka ' saya bahkan belum mengenal SMT ini secara penuh, jadi saya tidak dapat sembarangan menentukan bisa tidaknya mereka memasuki SMT...jadi...mungkin pendapat senior bisa lebih membantu.. Kesimpulannya....aku jiga tidak tahu...apa kalian benar-benar ingin bergabung?" jawab anak itu.

Isaki melirik Tokiya. Ia sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin bergabung, tapi Tokiya... "Kujawab saja, tidak. Ketika aku mendaftarkan diri, ya, aku ingin bergabung. Tapi sekarang, tidak lagi. Jika dengan bergabung maka aku akan tak mempunyai waktu untuk bersama dengannya, aku tak mau. Jadi, Nauka-san, lebih baik kau tak usah mempertimbangkanku lagi. Tak usah repot-repot, anggap saja pendaftaranku itu tak ada." jawab Tokiya mantap. Mendengar jawaban Tokiya, Isaki merasa lebih lega, walaupun sebenarnya Isaki tidak terlalu mengerti kenapa Tokiya menjadikan dirinya sebagai alasan baginya untuk menolak masuk klub.

Seusai berbicara demikian, Tokiya langsung menariknya keluar dari cafe. "Ah-!" Isaki bahkan tidak sempat mengucapkan salam perpisahan pada orang-orang yang duduk bersamanya tadi.

Hari sudah semakin gelap dan udara terasa begitu dingin. "Boleh minta satu permohonan aneh? Gendong aku seperti dulu? Jika tak mau, tak apa." kata Tokiya tiba-tiba sambil tetap merangkul lengannya. Isaki terdiam sejenak, menatap teman masa kecilnya itu. Ternyata dia masih ingat... Mau tidak mau Isaki tertawa kecil dan mengucek lembut rambut gadis itu, "Hn, tidak malu sebesar ini masih digendong? Aku sendiri tidak keberatan," Mungkin hanya kepada Tokiya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri (walau mereka seumur) ia bisa bersikap seperti ini. Ia masih ingat ketika kecil ia sering menggendong gadis itu dengan berbagai alasan. Ia lalu merendahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Tokiya (posisi piggy-back) dan menggendong gadis itu di punggungnya. Ringan sekali, ternyata tubuh dengan proporsi indah seperti itu sebenarnya lebih mungil dari yang terlihat...

Isaki mulai berjalan menjauhi cafe. "Sebaiknya kita kembali ke asrama sekarang. Kau yang menuntun jalan, aku benar-benar tidak tahu jalan..." mereka berdua semakin menjauh dan mulai tidak terlihat dalam kegelapan malam.

[OUT]
Back to top Go down
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Thu Sep 18, 2008 3:21 am

Nauka tersenyum dan merangkul bahu Tokidoki, ia membungkuk pelan dan menempelkan bibirnya ke cuping telinga bocah itu.

"Kau tahu? Mungkin kamu memang berbakat masuk SMT," bisiknya pelan agar tak terdengar siapapun. "Karena memang itulah satu-satunya yang kulihat saat aku memasukan member; keinginan."

Ia menatap ke arah Isaki dan Tokiya yang pergi. Tak ada ekspresi tanda-tanda ia lega maupu ia kecewa, hanya saja dia tidak terlihat menyelidik lagi.

"Nah... Karena kamu sepertinya sudah sehat, sepertinya kamu tetap dibutuhkan sebagai 'robin'ku," ujar Nauka sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. "Ayo kita cari Nacht."

Sambil bangkit berdiri ia melihat ke arah gadis yang sekarang tinggal sendirian.

"Hmm... Sepertinya kamu sudah tidak mau ikut lagi ya? Kan teman-temanmu sudah pergi," nada suaranya santai, kasual, ramah. Perpaduan yang unik dan hangat. "Tapi kalau kamu tidak punya tujuan, kamu bisa ikut dengan kami."

"Mau lihat salah satu kegiatan (tidak penting) SMT?"
Back to top Go down
View user profile
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Thu Sep 18, 2008 3:44 pm

Tokidoki menghembuskan nafas karena merasa lega, tentu saja ia tidak melakukannya dengan suara yang keras agar terdengar oleh orang-orang disekitarnya karena dirinya memang bukan tipe orang yang ingin menarik perhatian orang-orang disekitarnya.


Quote :
"Kau tahu? Mungkin kamu memang berbakat masuk SMT," bisiknya pelan agar tak terdengar siapapun. "Karena memang itulah satu-satunya yang kulihat saat aku memasukan member; keinginan."

Quote :
"Nah... Karena kamu sepertinya sudah sehat, sepertinya kamu tetap dibutuhkan sebagai 'robin'ku," ujar Nauka sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. "Ayo kita cari Nacht."


Tokidoki hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Nauka , mendengar nama Nacht disebut Tokidoki langsung memohon dalam hati agar anak itu tidak diperlakukan separah yang Nauka lakukan padanya...ya...bagi Tokidoki Nacht adalah teman pertamanya di tempat ini, jadi tidak ada salahnya jika ia sedikit khawatir..tapi dirinya juga tidak dapat mencurigai Nauka akan melakukan yang tidak-tidak terhadap Nacht karena Tokidoki merasa bahwa Nauka adalah orang yang baik(?) sehingga ia tidak akan memperlakukan anak-anak seperti Nacht dengan cara yang lebih parah darinya. Ia bangkit berdiri dan
menatap perempuan yang tadi bersama Tokiya dan teman prianya tadi.


"...."
Back to top Go down
Ennis Seiei
Single Star
Single Star


Posts : 618
Join date : 2008-09-01
Age : 24

Character Sheet
Alice: Love
Class: A - High School
Self Quote: Hentai itu seni! Loli itu hobi!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sat Sep 20, 2008 6:43 am

Ennis menghela nafas panjang. Dia hanya bisa menatap punggung pemuda tampan itu pergi menjauh tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Anak perempuan berambut hitam tersebut sebenarnya ingin agar pemuda tampan yang baru dikenalnya itu dapat menemaninya lebih lama lagi berada di café. Tetapi apa yang bisa dia perbuat? Teman perempuan yang seperti saudara kembar pemuda itu—well, harus Ennis akui kalau mereka berdua itu mirip—malah mengajaknya untuk segera pergi. Yah, dia mungkin telah membayarkan seluruh tagihan makanan yang dipesan, tetapi—jujur saja—anak perempuan pemilik Love Alice ini lebih memilih untuk ditemani hingga dia menyelesaikan makan malamnya.

"Hmm... sepertinya kamu sudah tidak mau ikut lagi ya? Kan teman-temanmu sudah pergi. Tapi kalau kamu tidak punya tujuan, kamu bisa ikut dengan kami," ujar pria dewasa itu dengan nada suara yang santai. "Mau lihat salah satu kegiatan SMT?"

Ennis tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia menyendok supnya yang sudah hampir habis sekali lagi sambil melamun memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan setelah ini. Pembicaraan tentang klub yang barusan dia dengar dan sempat dibahas oleh kenalan-kenalan barunya, sebenarnya bukanlah sebuah topik yang ingin gadis itu bicarakan saat ini. Well, memang tadi dia sempat berpikir untuk ikut bergabung dengan klub yang bernama SMT. Hanya saja setelah dia mengetahui bahwa Isaki tidak jadi bergabung dengan klub bernama aneh itu, well—artinya dia dia tidak memiliki alasan lagi untuk bergabung dengan klub itu, bukan?

Ditatapnya mata pria berkaca mata tersebut sebelum akhirnya dia menjawab apa yang ditanyakan oleh pria itu sambil tersenyum ramah, “Well, sepertinya memang aku tidak jadi ikut dengan klub yang Anda tawarkan, anyway—terima kasih sudah menawarkan.”

Segera Ennis menghabiskan seluruh makanan yang dia pesan. Setelah makan malam di café ini, mungkin Ennis akan segera kembali ke asrama, beristirahat, dan menenangkan pikirannya. Yah, memang bisa dianggap terlalu pagi untuk pergi tidur, hanya saja hari ini dia merasa sangat lelah. Mungkin dengan tidur cepat malam ini bisa membuatnya merasa lebih segar keesokan pagi. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan pemuda itu di sekolah, dan siapa tahu besok akan terjadi sesuatu hal yang tidak dia duga. Sebuah kejutan yang menyenangkan mungkin? Siapa tahu.


OOC: Sepertinya setelah ini saya tidak akan nge-rep di topik ini lagi. Kecuali kalau masih ada plot yang mau dijalankan… sepertinya episode di café ini bisa dianggap selesai.
Back to top Go down
View user profile
Nauka
Watcher
Watcher


Posts : 1078
Join date : 2008-09-01
Age : 35
Location : In front of my holy ERGONOMIC throne with the view of the world displayed on an LCD screen

Character Sheet
Alice: Prank Master
Class:
Self Quote: EPIC!

PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sat Sep 20, 2008 9:56 am

Nauka mengangkat bahu, lalu menyibak poninya yang terus-menerus menutupi pandangannya. Ia melirik ke arah Tokidoki dengan pandangan penuh arti, lalu melirik ke arah pintu keluar dengan sisi matanya.

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, cara jalannya urakan; terlalu santai, kaki diayunkan terlalu kuat dan sedikit mengangkang, matanya memandang kesana-kemari seperti tidak bisa fokus. Tapi cara jalannya yang cukup berantakan itu bisa dibilang terlihat rapi dan enak dipandang; seperti tanpa beban. Seperti tanpa beban.

Lengannya yang panjang mengulur ke gagang pintu besi yang mendingin karena hawa malam, jemarinya yang kurus tapi kuat mencengkram kuat gagang itu dan menariknya perlahan. Nauka lalu diam di depan pintu, menahan pintu sesaat, melirik ke arah Tokidoki untuk terakhir kalinya sebelum ia akhirnya keluar, masuk ke dalam kegelapan malam.

[out, ga tau kemana]
Back to top Go down
View user profile
Guest
Guest



PostSubject: Re: At Café: Topic?   Sat Sep 20, 2008 11:34 am

"Haaah....akhirnya sendiri lagi..."

Tokidoki melihat gadis itu pergi dan disusul dengan Nauka yang juga sepertinya sedang ada urusan sehingga ia tidak diajak lagi, lagipula Tokidoki tidak dapat mengikuti Nauka untuk selama-lamanya. Ia harus melakukan hal lain....hingga waktu mempertemukan mereka lagi disuatu saat.


"..."


Tokidoki melepas limiternya dan menggantinya dengan sebuah kacamata bening cemerlang. Ia kemudian melangkah keluar dari tempat itu tanpa mengatakan apa-apa lagi, ekspresi mukanya pun berubah seakan-akan dia menjadi orang yang lain setelah menggunakan kacamata itu.


[out]
Back to top Go down
Sponsored content




PostSubject: Re: At Café: Topic?   Today at 5:39 pm

Back to top Go down
 
At Café: Topic?
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Go to page : Previous  1, 2
 Similar topics
-
» Another new person topic
» Diplomacy Topic
» Talking with friends topic!!!
» Is death essential to good story writing?
» What are your favorite painting sites?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Abstract School :: Away Away Away :: Finished Thread-
Jump to: